haruskah kata diucap?
karena yang terjadi adalah kebisuan
kita berasa, kita merasa
terasa
sementara ruang kosong ini
menggemakan segala
memutar ulang, berulang-ulang
semua getaran yang menghasilkan suara
juga kebisuan
keheningan bertalu-talu di ruang ini
memukul gendang telinga, menyesakkan rongga di dada
kebisuan memang lebih memekakkan dari apa pun
haruskah kata diucap?
sedang kita menikmati sakitnya kebisuan yang memekakkan
Showing posts with label latitude. Show all posts
Showing posts with label latitude. Show all posts
22.10.11
5.8.11
Awan Merah
Berjumpa lagi kita malam ini
Ah, betapa aku merindukanmu
Terlalu banyak yang ingin kututurkan
Tapi pita suara tak bergetar
Tempat yang sama dengan delapan tahun yang lalu
Di ayunan ini
Di rumah tua ini
Hanya ayunan yang mengayun kita tak lagi menghadap pohon mangga
Hanya ada teras rumah yang gelap
Kita bersandar, mendongakkan kepala, menghadap langit
Menatap langit yang juga gelap
Tak ada hiasan berwarna putih pucat menggantung di sana
Kita diam
Tak bersuara
Menatap langit
“Langit merah,” kataku
“Bukan,” katamu
“Itu awan merah”
Awan merah?
Dan kita kembali membisu sampai hujan turun
16.7.11
Boneka Ayah
Mana bonekaku, Ibu?
Boneka yang diberi ayah saat ulang tahunku yang kelima
Aku cuma mau yang itu
Boneka beruang coklat muda yang sudah lusuh sejak aku menerimanya
Biar, Ibu
Biarkan aku bermain dengannya
Memeluknya ketika tidur
Seperti yang telah aku lakukan empat tahun ini
Kenapa Ibu ganti bonekaku?
Aku tak perlu boneka beruang putih yang tingginya melebihi ujung kucirku
Bisa tak tidur aku karena aroma tokonya yang melekat pekat
Aroma toko yang orang-orang di dalamnya memandang aku dan ayah sinis saat berdiri di luar etalasenya
Tak mau aku
Kembalikan bonekaku, Ibu
Jangan tukar bonekaku yang lusuh dengan yang baru dan mahal
Seperti apa yang telah kau lakukan pada ayahku
Dengan penuh cinta dan harap, Anakmu
6.7.11
Dira's Prologue
Dira mendengar.
Dira menguap, lalu menulis.
Dira mengantuk, karena ini semua menjemukan.
Menanti waktu habis.
Menunggu ia berhenti mengoceh.
Akhirnya Dira mendatanginya.
Mengatakan akan mengabaikannya.
Karena Dira lelah menagih janji,
di antara tuturnya yang tanpa puji.
010211
Dira menguap, lalu menulis.
Dira mengantuk, karena ini semua menjemukan.
Menanti waktu habis.
Menunggu ia berhenti mengoceh.
Akhirnya Dira mendatanginya.
Mengatakan akan mengabaikannya.
Karena Dira lelah menagih janji,
di antara tuturnya yang tanpa puji.
010211
Warm in Gloom
Kali ini, siang pun memilih mendung.
Redup.
Berbaur dengan warna-warna solid kain pelapis tubuh.
Dira duduk di koridor gedung biru putih itu.
Menyapu pandangan hingga ke seluruh horizonnya sekilas.
Hijau tumbuhan selalu lebih nyala kala mendung.
Hijau melatari warna solid lainnya dengan sempurna.
Dira, ia selalu menyukai warna solid.
Terlebih ketika mendung.
Dira, ia pun selalu menyukai mendung.
Seperti bocah yang selalu menyukai aroma tubuh ibunya.
Dan dengan senang hati menghambur ke pelukannya.
Mendung menawarkan kenyamanan.
Sekalipun di antara menusuknya angin yang tak henti,
Dira selalu merasa hangat.
7/2 saat mendung
Redup.
Berbaur dengan warna-warna solid kain pelapis tubuh.
Dira duduk di koridor gedung biru putih itu.
Menyapu pandangan hingga ke seluruh horizonnya sekilas.
Hijau tumbuhan selalu lebih nyala kala mendung.
Hijau melatari warna solid lainnya dengan sempurna.
Dira, ia selalu menyukai warna solid.
Terlebih ketika mendung.
Dira, ia pun selalu menyukai mendung.
Seperti bocah yang selalu menyukai aroma tubuh ibunya.
Dan dengan senang hati menghambur ke pelukannya.
Mendung menawarkan kenyamanan.
Sekalipun di antara menusuknya angin yang tak henti,
Dira selalu merasa hangat.
7/2 saat mendung
Subscribe to:
Posts (Atom)