9.11.14

Packing


Tiada yang lebih syahdu selain packing tengah malam. Dudududuu…

Hidup itu kayak packing. Kita harus pinter memilah dan memilih: mana yang cukup penting untuk ikut dibawa dan mana yang mesti ditinggalkan.

Terkadang saat memilah, kita akan dihadapkan dengan sesuatu yang mengingatkan pada masa lalu. Terjebak dalam memori. Nostalgia.

Dan kenangan itu membiaskan bahwa sebenarnya di masa kini dan masa depan sudah tak ada lagi ruang untuknya. Kita ingin membawanya turut serta.

Hidup itu seperti packing. Kita harus merapikan semuanya, memastikan tak ada yang tertinggal, tak ada yang berlebihan.

Kita sadar betul, tak ada ruang di tempat baru untuk hal yang mubazir, yang akan teronggok hingga kita kembali packing di masa depan yang entah kapan.

Kita juga dengan kesadaran penuh menyadari bahwa kita harus membekali diri dengna membawa apa-apa yang kita perlukan. Dengan tegas kita mesti memilah. Kemudian memilih. Apa yang akan terus kita bawa, dan apa yang mesti ditinggalkan.

Hidup itu kayak packing. Kalau enggak dimulai, gimana mau move on?


Dinukil dari tuitan malam tadi,
8 November 2014

6.1.13

Bahagia


Aku bersyukur. Betapa Tuhan membuat skala bahagia yang beda-beda di tiap orang. Bahagia yang sederhana. Bahagia yang penuh ironi. Bahagia yang melukai orang lain. Bahagia yang menularkan bahagia-bahagia yang membahagiakan kepada orang lain.

Betapa skala bahagia bisa berbeda. Tak perlu ikut orang lain untuk bisa bahagia. Bahagia itu, jiwa yang rasa. Sebuah perasaan yang muncul dari dalam. Tak terikut dalam sistem, norma, tren, dan seterusnya. Ada yang bahagia dengan mengenakan seragam. Ada yang bahagia dengan mempunyai pendamping hidup dan memiliki makhluk kecil yang rupanya mewarisi fisik ia dan orang yang ia cinta. Bahagia karena mengunjungi tempat-tempat terdalam dan terbuas di dunia. Bahagia karena bisa menikmati coklat panas di pagi yang mendung. Bahagia karena ada orang yang ikut aliran kepercayaannya. Bahagia karena menang lotere. Bahagia karena mendapat pinjaman jaket saat kedinginan. Bahagia karena bisa menggagas perubahan untuk menyelamatkan laba-laba berkaki sepuluh. Bahagia berjalan sendirian di trotoar jalan besar tengah malam. Bahagia karena temannya bahagia.

Ah, bahagia. Kata yang sederhana. Sebuah kata sifat. Yang dengan satu sifatnya, kita merasa banyak sifat lain. Yang dengan satu sifatnya, kita harus merasa banyak kata sifat lain.

Apa kita bahagia? Sudahkah kita bahagia? Sedang bahagiakah kita? Bagaimana supaya bahagia?

Mungkin kita harus kenal diri kita. Menjauh dari dunia luar. Dan pastikan, dengan cara apa kita bahagia? Karena—menurut seorang teman—hidup adalah untuk mencari kebahagiaan.

Sekarang: kebahagiaan macam apa yang dimaksud?

27.10.12

Ketersembunyian


Haruskah kita berbicara tentang sesuatu yang telah usai?
Sesuatu yang telah lapuk dimakan usia
Sesuatu yang hampir hilang, tak berbekas

Kau ingat, mengenai titik lupa?
Titik yang membawa segala yang telah terlupa kembali?

Ini bukan tentang itu
Ini tentang apa yang tersembunyi
Yang telah usai

Semuanya usai
Kecuali ketersembunyian itu sendiri

Kini saat aku tahu,

13.8.12

Titik Lupa

Di titik ini, kita melupakan semuanya
Tentang luka lama
Tentang kisah lalu
Tentang perjalanan pahit
Pun kita merasa hal yang beda sekarang

Ada yang bilang, manusia terlahir untuk lupa
Berusaha lupa
Lupa
Dan akhir tragis dari segalanya: terlupakan
Atau dengan sengaja dilupakan

Lantas ada yang bilang, manusia beruntung bisa lupa
Lupa mengisap duka
Lupa meremedi luka

Dan kini saatnya aku bilang, kita tak bisa lupa selamanya
Kita akan menjumpai satu titik
Titik yang membawa apa-apa yang terlupa kembali
Dan ia kembali mencabik kita
Hingga kita kembali lupa

27.7.12

Halo! Apa kabar?


Halo. Apa kabar?

Ingin rasanya aku tahu bagaimana kabarmu. Ah, betapa aku merindukanmu. Tak jarang aku memimpikanmu. Terkadang aku memikirkanmu.

Ingin rasanya bertanya, apa kabar? Tapi ini terlalu basa-basi untuk seorang teman lama. Teman dekat di masa lalu, yang kini semakin berjarak.

Aku ingin berbagi cerita. Membagi ceritaku, dan mendapat bagian dari ceritamu. Aku ingin mendapat kabarmu bukan dari teman kita. Betapa mengecewakannya saat aku tahu kabarmu dari teman kita. Seolah kita bukan teman lagi. Kita masih berteman, bukan?

Jarak itu memang tak berarti. Tak punya arti sama sekali. Kita dekat, namun rasanya jarak antara kita benar-benar jauh. Seolah aku di bumi, galaksi bima sakti, dan kau di planet antah berantah, galaksi andromeda.

Halo, apa kabar?

Pertanyaan klise. Pertanyaan retoris. Pertanyaan yang tak perlu dijawab.

Tapi aku benar-benar gila untuk mendengar kabarmu.

Bilakah aku bisa bilang padamu, “Halo! Apa kabar?”